A.
Tujuan Umum Madah
1.
Memahami
setiap bahasan yang berhubungan dengan aqidah yang bersumber dari
al-Qur’an dan Sunnah. Menanamkannya
dalam hati, membersihkannya dari setiap hal yang bisa menodainya dari hal yang
bid’ah dan khurafat.
2.
Menguatkan
hubungan seorang muslim dengan Rabbnya, berlandaskan Aqidah yang benar, yang
sesuai dengan ajaran Ahlussnnah wal Jama’ah.
3.
Mengenal
manhaj yang islami dalam mengatur hubungan manusia dengan alam semesta dengan
berkeyakinan bahwa ia adalah bagian dari alam ini dan ia yang mendapat tugas
sebagai khalifah di dalamnya. Memakmurkan alam semesta adalah sebagian dari
tugasnya, sedangkan Allah sudah menundukkan dan menunjukkannya ke dalam jalan
yang benar.
B. Tujuan Teori (cognitive)
a.
Menjelaskan
bagaimana seseorang dapat merasakan manisnya iman
b. Menjelaskan bukti yang menunjukkan bahwa seseorang
telah merasakan manisnya Iman
c.
Menjelaskan
bahwa memprioritaskan kecintaan kepada Allah akan melahirkan persaan ridha
d.
Menjelaskan
tiga hal yang dapat mewujudkan kesempurnaan iman
C.
Tujuan Afektif dan Psikomotorik
(Praktik)
a.
Merasakan
kelezatan iman dalam ketaatan, kesulitan dan kesusahan
b.
Semangat
dalam beribadah, berdawah dan berjihad
D. Pilihan Kegiatan
Pilihan kegiatan yang bisa diselenggarakan dalam halaqah adalah :
1.
Kegiatan Pembuka
a.
Tilawah dan tadabbur ayat surat At-Taubah : 24, 41, Yusuf : 33
b.
Mengambil
intisari pelajaran dari ayat-ayat tersebut
c.
Mengkomunikasikan
tema dan tujuan kajian halawatul iman
2. Kagiatan Inti:
a.
Kajian
tentang tema Halawatul Iman
b.
Berdiskusi
dan tanya jawab tenang tema tersebut (lihat tujuan kognitif, afektif, dan psikomotor)
c.
Penekanan
dari murobbi tentang nilai dan hikmah yang terkandung dalam kajian tersebut
3.
Kegiatan Penutup:
a.
Kesimpulan
(lihat Tugas mandiri dan lihat kegiatan pendukung)
b.
Evaluasi
E. Kegiatan-kegiatan
yang mendukung
- Mengkhususkan sebagian dari waktu untuk bertafakkur.
2. Melakukan
amalan-amalan yang bisa membuat bertambahnya iman, misalnya: muraqabah, berkorban untuk dakwah,
ibadah, puasa sunnah, qiyamullail, dzikir, tilawah, berfikir tentang kematian,
dan memikirkan kekuasaan Allah di alam semesta.
3. Mengumpulkan
ayat-ayat al-Qur’an yang berhubungan dengan tema ini
4. Seorang
murabbi hendaknya menyuruh mad’unya untuk merasakan kehadiran malaikat yang
menyertai mereka. Hal ini berjalan selama satu minggu.
F. Sarana taqwim dan mutaba’ah
a.
Ujian tulisan
b.
Ujian lisan
c.
Kontrol dan monitoring prilaku secara umum
d. Kontrol
dan monitoring keikutsertaan dalan setiap kegiatan yang mendukung
G. Referensi
a.
Haqiqatut-Tauhid karya Dr. Yusuf Qaradhawi.
b.
Majmu
Fatawa Ibnu Taimiyah
c.
Shohih
Bukhori Muslim
H.
Muhtawa
حَـــــــــلاَوَةُ
الإِيْمَـــــــــانِ
MANISNYA
IMAN

Penjelasan Rasmul Bayan:
Untuk mendapatkan manisnya
keimanan, seseorang harus memberikan kecintaannya (mahabbah) kepada Allah dan
Rasul-Nya dengan senantiasa menyempurnakan cintanya (takmiluha),
mengembangkannya (tafri’uha) hingga ke cabang-cabangnya, dan melawan hal-hal
yang bertentangan dengannya (daf’u dhiddiha).
Kecintaan kepada Allah dan
Rasul-Nya harus lebih diprioritaskan daripada godaan dunia (itsaruha ‘ala
‘aradhi-dunya) dengan ridha kepada Allah sebagai Tuhannya, Islam sebagai
agamanya, dan Muhammad sebagai Rasulnya. Implikasinya dengan menikmati
amal-amal ketaatan (istidzatut-tha’at) bahkan dengan menikmati berbagai beban
berat (istildzatu tahammulil masyaqqah) di jalan Allah.
Narasi:
Bagaimana seseorang dapat merasakan manisnya iman?
Seseorang akan merasakan manisnya iman bermula manakala di dalam hatinya
terdapat rasa cinta yang mendalam kepada Allah dan Rasul-Nya, manisnya akan
semakin dirasakan bila seseorang berusaha untuk senantiasa menyempurnakan
cintanya kepada Allah, memperbanyak cabang-cabangnya (amalan yang dicintai
Allah swt.) dan menangkis hal-hal yang bertentangan dengan kecintaan Allah swt.
Apa buktinya bila seseorang telah merasakan manisnya Iman?
Buktinya, ia akan selalu mengutamakan kecintaanya kepada Allah daripada
mementingkan kesenangan dan kemegahan dunia, seperti bersenang-senang dengan
keluarga, lebih senang tinggal di rumah ketimbang merespon seruan dakwah dan
asyik dengan bisnisnya tanpa ada kontribusi sedikitpun terhadap kegiatan jihad
di jalan Allah swt. Sebagaimana firman Allah dalam surat At-Taubah : 24
قُلْ
إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ
وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا
وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ
فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا
يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
“Katakanlah: "Jika
bapa-bapak, anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta
kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan
tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya
dan dari berjihad di jalan-Nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan
Keputusan-Nya. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”
(At-Taubah: 24).
Memprioritaskan kecintaan kepada Allah
akan melahirkan perasaan ridha
Bila seseorang senantiasa mengutamakan kecintaan kepada Allah, Rasul dan
jihad di jalan-Nya, daripada kepentingan dirinya sendiri, maka akan lahirlah
sikap ridha terhadap Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai din-nya dan Muhammad
sebagai Nabi dan Rasulnya. Keridhaannya itu dibuktikan dengan selalu menghadiri
halaqahnya, terlibat dengan kegiatan dakwah di lingkungannya dan menginfakkan
sebagian harta dan waktunya untuk kemaslahatan tegaknya agama Allah swt.
Apa yang dirasakan oleh seseorang bila ia telah ridha terhadap Allah, agama
dan Rasulnya?
Pertama, Ia akan merasakan “Istildzadz at-Thaa’ah”, lezatnya ketaatan
kepada Allah swt., baik dalam shalatnya, tilawah Qur’annya, pakaian dan
pergaulan islaminya, perkumpulannya dengan orang-orang shaleh dan
keterlibatannya dalam barisan dakwah
Kedua, Ia juga akan merasakan “Istildzadz al-masyaqat”, lezatnya
menghadapi berbagai kesulitan dan kesusahan dalam berdakwah. Kelelahan,
keletihan, dan hal-hal yang menyakiti perasaannya akibat celaan orang karena
menjalankan syariat Islam, atau bahkan mencederai fisiknya, semua itu semakin
membuatnya nikmat dalam berdakwah. Semua inilah yang akan senantiasa melahirkan
manisnya Iman.
“Istildzaadz at-thaa’ah”, lezatnya ketaatan kepada Allah ditunjukan oleh
wanita Anshar dan Muhajirin, tatkala turun wahyu yang memerintahkan mereka
untuk berhijab dan menutrup auratnya, mereka langsung meresponnya dengan senang
hati dan lapang dada, tanpa merasa berat sedikitpun. Aisyah ra. yang
menjadi saksi mata atas hal ini berkata :
رَحِمَ الله ُنِسَاءَ اْلاَنْصَارِ وَالْمُهَاجِرَاتِ
لَمَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِنَّ ”وَلْيَضْرِبْنَ مِنْ جَلاَ بِيْبِهِنَّ عَلَى جُيُوْ
بِهِنَّ“ شَقَقْنَ مُرُوْطَهُنَّ
فَلْيَخْتَمِرْنَ بِهَا
“Semoga Allah merahmati wanita
Anshar dan Muhajirin, tatkala turun kepada mereka ayat “hendaknya mereka
mengenakan kain panjang (jilbab) sampai ke atas dada mereka,” mereka memotong kain-kain
mereka, lalu mereka menjadikan kain-kain itu sebagai penutup kepalanya
Abu Ayub Ayub Al-Anshary, ketika
mendengar seruan jihad
Dalam surat At-Taubah : 41
انْفِرُوا
خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ
اللَّهِ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Berangkatlah kamu baik dalam
keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan
dirimu di jalan Allah. yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu
Mengetahui.” (A-Taubah: 41)
Abu Ayub berseru kepada
anak-anaknya, “Jahhizuuny! Jahhizuuny!” siapkan peralatan perangku!.
Anak-anaknya membujuk agar bapaknya tidak perlu berangkat untuk berjihad,
karena usianya sudah udzur, cukup di wakilkan saja oleh anak-anaknya. Abu Ayyub
menolak bujukan anak-anaknya seraya berkata : “ketahuilah wahai anak-anakku,
yang dimaksud ayat tersebut adalah خِفَافًالَكُمْ
وَثِقَالاً لٍي , ringan bagi
kalian berat bagiku, beliaupun tetap berangkat dan menemukan syahidnya dalam
perjalanan jihad tersebut. (lihat Tafsir Ibnu Katsir)
Sedangkan Lezatnya kesulitan
(Istildzadz al-masyaqqah) dalam dakwah dirasakan oleh Rasulullah saw., ketika
beliau menghadapi ketidaksukaan orang-orang kafir terhadap ajaran Islam,
sebagaimana yang ditunjukan oleh masyarakat Thaif ketika Rasulullah saw. hijrah
ke sana, yaitu pada saat Nabi menyampaikan dakwahnya, mengajak mereka untuk menerima
ajaran Islam, tetapi tidak ada sedikitpun sambutan baik dari para tokoh mereka,
bahkan dengan nada yang sangat melecehkan dan menyakitkan, mereka menanggapi
dakwah Nabi seraya berkata,
“Coba kau robek kiswah ka’bah jika engkau memang benar-benar
utusan Allah.”
Yang lainnyapun turut
berkomentar,
“Apa tidak ada lagi orang yang
lebih pantas diutus oleh Allah selain engkau?”
Dengan penuh kesabaran dan
ketabahan Rasulullah saw. menerima kenyataan pahit tersebut, beliau tetap
berlapang dada dan tidak mempermasalahkan tentang penolakan dan penentangan
mereka. Oleh karena itu ketika malaikat penjaga gunung Alaihissalaam
menawarkan kepada Nabi, bila beliau setuju ia akan mengangkat dua buah bukit
yang ada di Thaif lalu ditimpakan kepada mereka, dengan penuh kelembutan dan
kasih sayang Rasulullah saw. menanggapinya seraya berkata,
بَلْ
أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ
لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا
“Tetapi aku
berharap semoga Allah mengeluarkan dari tulang rusuk mereka kelak orang-orang
(generasi) yang beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu
apapun.”
Syaikh Abu Muhammad bin Abi
Jamroh mengibaratkan manisnya iman dengan sebuah pohon, sebagaimana firman
Allah :
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ
مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا
فِي السَّمَاءِ
“Tidakkah kamu perhatikan
bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang
baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit.” (Ibrahim : 24)
Yang dimaksud kalimat dalam ayat
tersebut adalah kalimatul ikhlas لا اله الا الله, batang pohonnya adalah pangkal iman,
cabang dan rantingnya adalah menjalankan perintah Allah dan menjauhi
larangan-Nya, dedaunannya adalah kepedulian terhadap kebajikan, buahnya adalah
amal ketaatan, rasa manisnya adalah ketika memetiknya, dan puncak manisnya
adalah ketika matangnya sempurna saat dipetik, disitulah sangat terasa manisnya.
عَنْ
أَنَسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ((ثَلاَثٌ مَنْ
كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاَوَةَ الإِيْمَانِ: مَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ
أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ
إِلاَّ لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي
الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ
فِي النَّارِ)). (رواه البخاري ومسلم وهذا لفظ مسلم).
Dari Anas ra, dari Nabi saw.
bersabda, “Tiga perkara jika kalian memilikinya, maka akan didapati manisnya
iman. (Pertama) orang yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari
selainnya. (Kedua) agar mencintai seseorang semata-mata karena Allah swt. (Ketiga),
tidak senang kembali kapada kekufuran setelah diselamatkan oleh Allah swt,
sebagaimana ketidak-senangannya dilempar ke dalam api neraka.” (HR Bukhar
Muslim dengan redaksi Muslim)
عَنْ الْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ أَنَّهُ سَمِعَ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ((ذَاقَ طَعْمَ
الإِيْمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالإِسْلاَمِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ
رَسُولاً)) (رواه مسلم).
Dari Al-Abbas bin Abdil Muttalib,
bahwasanya ia mendengar Rasulallah saw. bersabda, “Telah merasakan lezatnya
iman seseorang yang ridha Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai dinnya dan
Muhammad sebagai Rasulnya.” (HR.
Muslim)
Hadits ini sangat agung maknanya,
termasuk dasar-dasar Islam, berkata para ulama, “Arti dari manisnya iman adalah
mersakan lezatnya ketaatan dan memiliki daya tahan menghadapi rintangan dalam
menggapai ridha Allah dan Rasul-Nya, lebih mengutamakan ridha-Nya dari pada
kesenangan dunia, dan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya dengan menjalankan
perintahnya dan menjauhi larangan-Nya.
Dalam hadits tersebut Rasulullah saw.
menjelaskan bahwa tiga perkara bila kalian berada di dalamnya maka akan
didapati manisnya iman, karena sarat mendapatkan manisnya sesuatu adalah dengan
mencintainya, maka barang siapa yang mencintai sesuatu dan bergelora cintanya,
maka ketika berhasil mendapatkannya, ia akan merasakan manis, lezat dan
kegembiraannya. Karena itu seorang mukmin yang telah mendapatkan manisnya iman
yang mangandung unsur kelezatan dan kesenangan akan diiringi dengan kesempurnaan
cinta seorang hamba kepada Allah swt. Dan kesempurnan itu dapat diwujudkan
dengan tiga hal.
Pertama : menyempurnakan cinta
kepada Allah yaitu dengan menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari
yang lainnya, karena cinta kepada Allah tidak cukup hanya sekedarnya, tetapi harus
melebihi dari yang lain-Nya
Kedua : menjadikan cinta kepada
Allah menjadi pangkal dari cabang cinta kepada yang lain, yaitu mencintai orang
lain semata-mata karena dan untuk Allah swt., sehingga dalam mencintai ia tetap
mengikuti prosedur dan mekanisme cinta yang telah ditetapkan oleh Allah dalam
Al-Qur’an dan Sunnah, misalnya tidak berkhalwat, menyegerakan akad nikah dan
menghindari perbuatan yang mendekati pada perzinahan. (tidak pacaran) (QS. 24 :
30-31, 33 : 59)
Menolak segala hal yang
bertentangan dengan cinta-Nya, yaitu tidak menyukai hal-hal yang bertentangan
dengan keimanan melebihi ketidaksukaannya bila dirinya dilemparkan ke dalam api
neraka.
عَنْ
عَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ قاَلَ : ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ بِهِنَّ
حَلاَوَةَ اْلِايْمَانِ :اَلاْنِفْاَقُ مِنَ اُلاِقْتَارِ ، وَإِنْصَافُ النَّاسِ
مِنْ نَفْسِكَ ، وَبذْلُ السَّلاَمِ لِلْعَالَمِ (رواه عبد الرزاق) علقه البخاري
في (كتاب الايمان)
Amar bin Yasir berkata, “Ada tiga hal yang
barangsiapa berada di dalamnya ia merasakan manisnya keimanan, berinfak dari
kekikiran, bersikap adil terhadap manusia dari dirinya, dan mengupayakan
keselamatan (salam) bagi alam.”
(Diriwayatkan Abdurazzaq, Bukhari mencantumkannya di kitab Al-Iman).
Hadits yang dibawakan oleh Amar
bin Yasir ra. tersebut di atas, juga menjelaskan tentang tiga hal yang dapat
mendatangkan manisnya iman
Pertama : berinfak secukupnya,
tidak berlebihan sehingga menzalimi hak-hak yang lainnya, tapi juga tidak kikir
dengan hartanya
Kedua : bersikap objektif, tidak
menghalanginya untuk berbuat baik dan adil kepada manusia, walaupun ada
kaitannya dengan kepentingan diri sendiri, misalnya walaupun disakiti dan
dizalimi oleh seseorang, tetapi tidaka menghalanginya untuk memaafkannya dan
tetap berbuat baik kepadanya
Ketiga : Menebarkan kesejahteraan
kepada seluruh alam semesta, memperjuangkan sesuatu demi kebaikan manusia dan
seluruh makhluk lainnya, seperti dengan melakukan kegiatan amal siasi maupun
amal khidam ijtima’i (kegiatan sosial)
عَنِ
ابْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ : ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ يَجِدْ بِهِنَّ حَلاَوَةَ
اْلاِيْمَانِ : تَرْكُ اْلمِرَاءِ فيِ الْحَقِّ ، وَاْلكِذْبُ فِي اْلمُزَاحَةِ ،
وَيَعْلَمُ أَنَّ مَا أَصَابَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَهُ ، وَأَنَّ مَا
أَخْطَأَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَهُ. (رواه عبد الرزاق)
Ibnu Mas’ud juga berkata, “Ada tiga hal yang
barangsiapa berada di dalamnya akan merasakan manisnya iman, menghindari
perdebatan dalam hal kebenaran, tidak berdusta dalam bercanda, dan menyadari
bahwa apa yang akan menimpanya bukan karena kesalahannya dan apa kesalahannya
tidak menyebabkan ia tertimpa (musibah).” (Diriwayatkan Abdurrazzaq).
عن
أنس مرفوعا: "لاَ يَجِدُ عَبْدٌ حَلاَوَةَ الإِيْمَانِ حَتىَّ يَعْلَمَ أَنَّ
مَا أَصَابَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَهُ ، وَأَنَّ مَا
أَخْطَأَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَهُ ... " الحديث . أخرجه ابن أبي عاصم (
247 ) بإسناد حسن عنه. (الألباني – السلسلة الصحيحة)
Dari Anas secara marfu’
mengatakan, “Tidaklah seorang hamba merasakan manisnya keimanan sehingga dia
menyadari bahwa apa yang akan menimpanya bukan karena kesalahannya dan apa kesalahannya
tidak menyebabkan ia tertimpa (musibah).” Hadits tersebut dikeluarkan Ibnu Abi
Ashim, hadits sahih dengan sanad yang baik, termaktub dalam silisilah hadits
sahih karya Imam Albani.
(قُلْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ) *
وَالْغَضُّ عَنِ الْمَحَارِمِ يُوْجِبُ حَلاَوَةَ الإِيْمَانِ، وَمَنْ تَرَكَ
شَيْئًا لِلّهِ عَوَّضَهُ اللهُ خَيْرًا مِنْهُ، وَمَنْ أَطْلَقَ لَحَظَاتِهِ
دَامَتْ حَسَرَاتُهُ. (فيض القدير 1/677).
“Katakanlah kepada mukmin laki-laki
agar menahan pandangan mereka…” (An-Nur: 30). Yaitu menahan dari apa
yang diharamkan Allah swt. pasti akan mendatangkan manisnya iman, dan
barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan
menggantikannya dengan yang lebih baik darinya, dan barangsiapa yang
membebaskannya walau hanya sekejap maka akan abadi penyesalannya”
عَنْ
مُعَاذِ بن جَبَلٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ:"لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لأَحَدٍ لأَمَرْتُ
الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا مِنْ حَقِّهِ عَلَيْهَا، وَلاَ تَجِدُ
امْرَأَةٌ حَلاَوَةَ الإِيْمَانِ حَتَّى تُؤَدِّيَ حَقَّ زَوْجِهَا، وَلَوْ
سَأَلَهَا نَفْسَهَا عَلَى قَتَبٍ.“ (المعجم الكبير للطبراني)
Dari Muadz bin Jabal berkata :
Rasulullah SAW bersabda : “Seandainya aku memerintahkan seseorang bersujud
kepada yang lainnya, maka akan aku perintahkan isteri sujud kepada suaminya,
karena hak-hak suami atasnya, dan tidaklah seorang wanita mendapatkan manisnya
iman sehingga Ia menunaikan hak suaminya, walaupun suaminya memintanya, sedang
Ia sedang berada di atas sekedupnya
قاَلَ
اِبْنُ رَجَبْ فِي (فَتْحِ الْبَارِي: 1/27): فَإِذَا وَجَدَ اْلقَلْبُ حَلاَوَةَ
اْلإِيْمَانِ أَحَسَّ بِمَرَارَةِ اْلكُفْرِ وَاْلفُسُوْقِ وَاْلعِصْيَانِ
وَلِهَذَا قَالَ يُوْسُفُ عَلَيْهِ السَّلاَم ُ: {رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ
مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ} [يوسف33].
Ibnu Rajab berkata dalam kitab
Fathul Bari 1/27 : “Maka apabila sebilah hati telah mendapatkan manisnya iman,
maka ia akan sensitif merasakan pahitnya kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan,
karena itulah Nabi Yusuf AS berkata : “Ya Rabb! Penjari lebih aku sukai
daripada apa yang mereka serukan kepadaku” (QS. Yusuf : 33)






0 comments:
Post a Comment