Milad ke 15 PKS

Acara Puncak Milad PKS yang diadakan di Lawang Sewu dan PRPP Semarang

Kader PKS Bekerja

Kader PKS Bekerja bersama Relawan Mengatasi Kebakaran

Relawan PKS Siaga Bencana

Relawan PKS Berkumpul Bersama Bersiaga Menghadapi Bencana.

Renungkanlah Wahai Kawanku..

Ada 2 Cara Menyebarkan Sinar, menjadi Lilin, atau menjadi Cermin yang memantulkan sinarnya.

Milad PKS ke 15 di Senayan

Acara peringatan Milad PKS di Senayan Jakarta dihadiri ratusan ribu kader dan simpatisan se DKI Jakarta

Sunday, April 28, 2013

Halawatul Iman



A.      Tujuan Umum  Madah
1.      Memahami setiap bahasan yang berhubungan dengan aqidah yang bersumber dari al-Qur’an  dan Sunnah. Menanamkannya dalam hati, membersihkannya dari setiap hal yang bisa menodainya dari hal yang bid’ah dan khurafat.
2.      Menguatkan hubungan seorang muslim dengan Rabbnya, berlandaskan Aqidah yang benar, yang sesuai dengan ajaran Ahlussnnah wal Jama’ah.
3.      Mengenal manhaj yang islami dalam mengatur hubungan manusia dengan alam semesta dengan berkeyakinan bahwa ia adalah bagian dari alam ini dan ia yang mendapat tugas sebagai khalifah di dalamnya. Memakmurkan alam semesta adalah sebagian dari tugasnya, sedangkan Allah sudah menundukkan dan menunjukkannya ke dalam jalan yang benar.

B.   Tujuan Teori (cognitive)
a.       Menjelaskan bagaimana seseorang dapat merasakan manisnya iman
b.      Menjelaskan bukti yang menunjukkan bahwa seseorang telah merasakan manisnya Iman
c.       Menjelaskan bahwa memprioritaskan kecintaan kepada Allah akan melahirkan persaan ridha
d.      Menjelaskan tiga hal yang dapat mewujudkan kesempurnaan iman

C.   Tujuan Afektif  dan Psikomotorik (Praktik)
a.                                                                                              Merasakan kelezatan iman dalam ketaatan, kesulitan dan kesusahan
b.                                                                                              Semangat dalam beribadah, berdawah dan berjihad

D.   Pilihan Kegiatan

Pilihan kegiatan yang bisa diselenggarakan  dalam halaqah adalah :
1.      Kegiatan Pembuka
a.                                                                                  Tilawah dan tadabbur ayat  surat  At-Taubah : 24, 41, Yusuf : 33
b.                                                                                  Mengambil intisari pelajaran dari ayat-ayat tersebut
c.                                                                                  Mengkomunikasikan tema dan tujuan kajian halawatul iman   
   

2.    Kagiatan Inti:
a.                               Kajian tentang tema Halawatul Iman
b.      Berdiskusi dan tanya jawab tenang tema tersebut (lihat tujuan  kognitif, afektif, dan psikomotor)
c.       Penekanan dari murobbi tentang nilai dan hikmah yang terkandung dalam kajian tersebut

3.      Kegiatan Penutup:
a.                                                             Kesimpulan (lihat Tugas mandiri dan lihat kegiatan pendukung)
b.                                                            Evaluasi

E.    Kegiatan-kegiatan yang mendukung
  1. Mengkhususkan sebagian dari waktu untuk bertafakkur.
2.      Melakukan amalan-amalan yang bisa membuat bertambahnya iman, misalnya: muraqabah, berkorban untuk dakwah, ibadah, puasa sunnah, qiyamullail, dzikir, tilawah, berfikir tentang kematian, dan memikirkan kekuasaan Allah di alam semesta.
3.      Mengumpulkan ayat-ayat al-Qur’an yang berhubungan dengan tema ini
4.      Seorang murabbi hendaknya menyuruh mad’unya untuk merasakan kehadiran malaikat yang menyertai mereka. Hal ini berjalan selama satu minggu.

F.   Sarana taqwim dan mutaba’ah
a.       Ujian tulisan
b.      Ujian lisan
c.       Kontrol dan monitoring prilaku secara umum
d.      Kontrol dan monitoring keikutsertaan dalan setiap kegiatan yang mendukung

G.   Referensi
a.                                                                                  Haqiqatut-Tauhid karya Dr. Yusuf Qaradhawi.
b.                                                                                  Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah
c.                                                                                  Shohih Bukhori Muslim


H.    Muhtawa

حَـــــــــلاَوَةُ الإِيْمَـــــــــانِ

MANISNYA IMAN








Penjelasan Rasmul Bayan:
Untuk mendapatkan manisnya keimanan, seseorang harus memberikan kecintaannya (mahabbah) kepada Allah dan Rasul-Nya dengan senantiasa menyempurnakan cintanya (takmiluha), mengembangkannya (tafri’uha) hingga ke cabang-cabangnya, dan melawan hal-hal yang bertentangan dengannya (daf’u dhiddiha).
Kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya harus lebih diprioritaskan daripada godaan dunia (itsaruha ‘ala ‘aradhi-dunya) dengan ridha kepada Allah sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai Rasulnya. Implikasinya dengan menikmati amal-amal ketaatan (istidzatut-tha’at) bahkan dengan menikmati berbagai beban berat (istildzatu tahammulil masyaqqah) di jalan Allah.

Narasi:
Bagaimana seseorang dapat merasakan manisnya iman?

Seseorang akan merasakan manisnya iman bermula manakala di dalam hatinya terdapat rasa cinta yang mendalam kepada Allah dan Rasul-Nya, manisnya akan semakin dirasakan bila seseorang berusaha untuk senantiasa menyempurnakan cintanya kepada Allah, memperbanyak cabang-cabangnya (amalan yang dicintai Allah swt.) dan menangkis hal-hal yang bertentangan dengan kecintaan Allah swt.

Apa buktinya bila seseorang telah merasakan manisnya Iman?
Buktinya, ia akan selalu mengutamakan kecintaanya kepada Allah daripada mementingkan kesenangan dan kemegahan dunia, seperti bersenang-senang dengan keluarga, lebih senang tinggal di rumah ketimbang merespon seruan dakwah dan asyik dengan bisnisnya tanpa ada kontribusi sedikitpun terhadap kegiatan jihad di jalan Allah swt. Sebagaimana firman Allah dalam surat At-Taubah : 24

قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“Katakanlah: "Jika bapa-bapak, anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan Keputusan-Nya. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (At-Taubah: 24).

Memprioritaskan kecintaan kepada Allah akan melahirkan perasaan ridha

Bila seseorang senantiasa mengutamakan kecintaan kepada Allah, Rasul dan jihad di jalan-Nya, daripada kepentingan dirinya sendiri, maka akan lahirlah sikap ridha terhadap Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai din-nya dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasulnya. Keridhaannya itu dibuktikan dengan selalu menghadiri halaqahnya, terlibat dengan kegiatan dakwah di lingkungannya dan menginfakkan sebagian harta dan waktunya untuk kemaslahatan tegaknya agama Allah swt.

Apa yang dirasakan oleh seseorang bila ia telah ridha terhadap Allah, agama dan Rasulnya?
Pertama, Ia akan merasakan “Istildzadz at-Thaa’ah”, lezatnya ketaatan kepada Allah swt., baik dalam shalatnya, tilawah Qur’annya, pakaian dan pergaulan islaminya, perkumpulannya dengan orang-orang shaleh dan keterlibatannya dalam barisan dakwah

Kedua, Ia juga akan merasakan “Istildzadz al-masyaqat”, lezatnya menghadapi berbagai kesulitan dan kesusahan dalam berdakwah. Kelelahan, keletihan, dan hal-hal yang menyakiti perasaannya akibat celaan orang karena menjalankan syariat Islam, atau bahkan mencederai fisiknya, semua itu semakin membuatnya nikmat dalam berdakwah. Semua inilah yang akan senantiasa melahirkan manisnya Iman.

“Istildzaadz at-thaa’ah”, lezatnya ketaatan kepada Allah ditunjukan oleh wanita Anshar dan Muhajirin, tatkala turun wahyu yang memerintahkan mereka untuk berhijab dan menutrup auratnya, mereka langsung meresponnya dengan senang hati dan lapang dada, tanpa merasa berat sedikitpun. Aisyah ra. yang menjadi saksi mata atas hal ini berkata :

رَحِمَ الله ُنِسَاءَ اْلاَنْصَارِ وَالْمُهَاجِرَاتِ لَمَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِنَّ ”وَلْيَضْرِبْنَ مِنْ جَلاَ بِيْبِهِنَّ عَلَى جُيُوْ بِهِنَّ“  شَقَقْنَ مُرُوْطَهُنَّ فَلْيَخْتَمِرْنَ بِهَا
“Semoga Allah merahmati wanita Anshar dan Muhajirin, tatkala turun kepada mereka ayat “hendaknya mereka mengenakan kain panjang (jilbab) sampai ke atas dada mereka,” mereka memotong kain-kain mereka, lalu mereka menjadikan kain-kain itu sebagai penutup kepalanya

Abu Ayub Ayub Al-Anshary, ketika mendengar seruan jihad
Dalam surat At-Taubah : 41

انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui.” (A-Taubah: 41)

Abu Ayub berseru kepada anak-anaknya, “Jahhizuuny! Jahhizuuny!” siapkan peralatan perangku!. Anak-anaknya membujuk agar bapaknya tidak perlu berangkat untuk berjihad, karena usianya sudah udzur, cukup di wakilkan saja oleh anak-anaknya. Abu Ayyub menolak bujukan anak-anaknya seraya berkata : “ketahuilah wahai anak-anakku, yang dimaksud ayat tersebut adalah خِفَافًالَكُمْ وَثِقَالاً لٍي , ringan bagi kalian berat bagiku, beliaupun tetap berangkat dan menemukan syahidnya dalam perjalanan jihad tersebut. (lihat Tafsir Ibnu Katsir)

Sedangkan Lezatnya kesulitan (Istildzadz al-masyaqqah) dalam dakwah dirasakan oleh Rasulullah saw., ketika beliau menghadapi ketidaksukaan orang-orang kafir terhadap ajaran Islam, sebagaimana yang ditunjukan oleh masyarakat Thaif ketika Rasulullah saw. hijrah ke sana, yaitu pada saat Nabi menyampaikan dakwahnya, mengajak mereka untuk menerima ajaran Islam, tetapi tidak ada sedikitpun sambutan baik dari para tokoh mereka, bahkan dengan nada yang sangat melecehkan dan menyakitkan, mereka menanggapi dakwah Nabi seraya berkata,

“Coba kau robek  kiswah ka’bah jika engkau memang benar-benar utusan Allah.”
Yang lainnyapun turut berkomentar,
“Apa tidak ada lagi orang yang lebih pantas diutus oleh Allah selain engkau?”
Dengan penuh kesabaran dan ketabahan Rasulullah saw. menerima kenyataan pahit tersebut, beliau tetap berlapang dada dan tidak mempermasalahkan tentang penolakan dan penentangan mereka. Oleh karena itu ketika malaikat penjaga gunung Alaihissalaam menawarkan kepada Nabi, bila beliau setuju ia akan mengangkat dua buah bukit yang ada di Thaif lalu ditimpakan kepada mereka, dengan penuh kelembutan dan kasih sayang Rasulullah saw. menanggapinya seraya berkata,

بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا
“Tetapi aku berharap semoga Allah mengeluarkan dari tulang rusuk mereka kelak orang-orang (generasi) yang beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun.”

Syaikh Abu Muhammad bin Abi Jamroh mengibaratkan manisnya iman dengan sebuah pohon, sebagaimana firman Allah :
 أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit.” (Ibrahim : 24)

Yang dimaksud kalimat dalam ayat tersebut adalah kalimatul ikhlas لا اله الا الله, batang pohonnya adalah pangkal iman, cabang dan rantingnya adalah menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, dedaunannya adalah kepedulian terhadap kebajikan, buahnya adalah amal ketaatan, rasa manisnya adalah ketika memetiknya, dan puncak manisnya adalah ketika matangnya sempurna saat dipetik, disitulah sangat terasa manisnya.

عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ((ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاَوَةَ الإِيْمَانِ: مَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ)). (رواه البخاري ومسلم وهذا لفظ مسلم).

Dari Anas ra, dari Nabi saw. bersabda, “Tiga perkara jika kalian memilikinya, maka akan didapati manisnya iman. (Pertama) orang yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya. (Kedua) agar mencintai seseorang semata-mata karena Allah swt. (Ketiga), tidak senang kembali kapada kekufuran setelah diselamatkan oleh Allah swt, sebagaimana ketidak-senangannya dilempar ke dalam api neraka.” (HR Bukhar Muslim dengan redaksi Muslim)

عَنْ الْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ((ذَاقَ طَعْمَ الإِيْمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالإِسْلاَمِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً)) (رواه مسلم).
Dari Al-Abbas bin Abdil Muttalib, bahwasanya ia mendengar Rasulallah saw. bersabda, “Telah merasakan lezatnya iman seseorang yang ridha Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai dinnya dan Muhammad sebagai  Rasulnya.” (HR. Muslim)

Hadits ini sangat agung maknanya, termasuk dasar-dasar Islam, berkata para ulama, “Arti dari manisnya iman adalah mersakan lezatnya ketaatan dan memiliki daya tahan menghadapi rintangan dalam menggapai ridha Allah dan Rasul-Nya, lebih mengutamakan ridha-Nya dari pada kesenangan dunia, dan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi larangan-Nya.

Dalam hadits tersebut Rasulullah saw. menjelaskan bahwa tiga perkara bila kalian berada di dalamnya maka akan didapati manisnya iman, karena sarat mendapatkan manisnya sesuatu adalah dengan mencintainya, maka barang siapa yang mencintai sesuatu dan bergelora cintanya, maka ketika berhasil mendapatkannya, ia akan merasakan manis, lezat dan kegembiraannya. Karena itu seorang mukmin yang telah mendapatkan manisnya iman yang mangandung unsur kelezatan dan kesenangan akan diiringi dengan kesempurnaan cinta seorang hamba kepada Allah swt. Dan kesempurnan itu dapat diwujudkan dengan tiga hal.

Pertama : menyempurnakan cinta kepada Allah yaitu dengan menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari yang lainnya, karena cinta kepada Allah tidak cukup hanya sekedarnya, tetapi harus melebihi dari yang lain-Nya
Kedua : menjadikan cinta kepada Allah menjadi pangkal dari cabang cinta kepada yang lain, yaitu mencintai orang lain semata-mata karena dan untuk Allah swt., sehingga dalam mencintai ia tetap mengikuti prosedur dan mekanisme cinta yang telah ditetapkan oleh Allah dalam Al-Qur’an dan Sunnah, misalnya tidak berkhalwat, menyegerakan akad nikah dan menghindari perbuatan yang mendekati pada perzinahan. (tidak pacaran) (QS. 24 : 30-31, 33 : 59)

Menolak segala hal yang bertentangan dengan cinta-Nya, yaitu tidak menyukai hal-hal yang bertentangan dengan keimanan melebihi ketidaksukaannya bila dirinya dilemparkan ke dalam api neraka.

عَنْ عَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ قاَلَ : ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاَوَةَ اْلِايْمَانِ :اَلاْنِفْاَقُ مِنَ اُلاِقْتَارِ ، وَإِنْصَافُ النَّاسِ مِنْ نَفْسِكَ ، وَبذْلُ السَّلاَمِ لِلْعَالَمِ (رواه عبد الرزاق) علقه البخاري في (كتاب الايمان)
Amar bin Yasir berkata, “Ada tiga hal yang barangsiapa berada di dalamnya ia merasakan manisnya keimanan, berinfak dari kekikiran, bersikap adil terhadap manusia dari dirinya, dan mengupayakan keselamatan (salam) bagi alam.”  (Diriwayatkan Abdurazzaq, Bukhari mencantumkannya di kitab Al-Iman).

Hadits yang dibawakan oleh Amar bin Yasir ra. tersebut di atas, juga menjelaskan tentang tiga hal yang dapat mendatangkan manisnya iman

Pertama : berinfak secukupnya, tidak berlebihan sehingga menzalimi hak-hak yang lainnya, tapi juga tidak kikir dengan hartanya

Kedua : bersikap objektif, tidak menghalanginya untuk berbuat baik dan adil kepada manusia, walaupun ada kaitannya dengan kepentingan diri sendiri, misalnya walaupun disakiti dan dizalimi oleh seseorang, tetapi tidaka menghalanginya untuk memaafkannya dan tetap berbuat baik kepadanya

Ketiga : Menebarkan kesejahteraan kepada seluruh alam semesta, memperjuangkan sesuatu demi kebaikan manusia dan seluruh makhluk lainnya, seperti dengan melakukan kegiatan amal siasi maupun amal khidam ijtima’i (kegiatan sosial)

عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ : ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ يَجِدْ بِهِنَّ حَلاَوَةَ اْلاِيْمَانِ : تَرْكُ اْلمِرَاءِ فيِ الْحَقِّ ، وَاْلكِذْبُ فِي اْلمُزَاحَةِ ، وَيَعْلَمُ أَنَّ مَا أَصَابَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَهُ ، وَأَنَّ مَا أَخْطَأَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَهُ. (رواه عبد الرزاق)
Ibnu Mas’ud juga berkata, “Ada tiga hal yang barangsiapa berada di dalamnya akan merasakan manisnya iman, menghindari perdebatan dalam hal kebenaran, tidak berdusta dalam bercanda, dan menyadari bahwa apa yang akan menimpanya bukan karena kesalahannya dan apa kesalahannya tidak menyebabkan ia tertimpa (musibah).” (Diriwayatkan Abdurrazzaq).
عن أنس مرفوعا: "لاَ يَجِدُ عَبْدٌ حَلاَوَةَ الإِيْمَانِ حَتىَّ يَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَهُ ، وَأَنَّ مَا أَخْطَأَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَهُ ... " الحديث . أخرجه ابن أبي عاصم ( 247 ) بإسناد حسن عنه. (الألباني – السلسلة الصحيحة)
Dari Anas secara marfu’ mengatakan, “Tidaklah seorang hamba merasakan manisnya keimanan sehingga dia menyadari bahwa apa yang akan menimpanya bukan karena kesalahannya dan apa kesalahannya tidak menyebabkan ia tertimpa (musibah).” Hadits tersebut dikeluarkan Ibnu Abi Ashim, hadits sahih dengan sanad yang baik, termaktub dalam silisilah hadits sahih karya Imam Albani.
(قُلْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ) * وَالْغَضُّ عَنِ الْمَحَارِمِ يُوْجِبُ حَلاَوَةَ الإِيْمَانِ، وَمَنْ تَرَكَ شَيْئًا لِلّهِ عَوَّضَهُ اللهُ خَيْرًا مِنْهُ، وَمَنْ أَطْلَقَ لَحَظَاتِهِ دَامَتْ حَسَرَاتُهُ. (فيض القدير 1/677).
“Katakanlah kepada mukmin laki-laki  agar menahan pandangan mereka…” (An-Nur: 30). Yaitu menahan dari apa yang diharamkan Allah swt. pasti akan mendatangkan manisnya iman, dan barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik darinya, dan barangsiapa yang membebaskannya walau hanya sekejap maka akan abadi penyesalannya”

عَنْ مُعَاذِ بن جَبَلٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:"لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لأَحَدٍ لأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا مِنْ حَقِّهِ عَلَيْهَا، وَلاَ تَجِدُ امْرَأَةٌ حَلاَوَةَ الإِيْمَانِ حَتَّى تُؤَدِّيَ حَقَّ زَوْجِهَا، وَلَوْ سَأَلَهَا نَفْسَهَا عَلَى قَتَبٍ.“ (المعجم الكبير للطبراني)

Dari Muadz bin Jabal berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Seandainya aku memerintahkan seseorang bersujud kepada yang lainnya, maka akan aku perintahkan isteri sujud kepada suaminya, karena hak-hak suami atasnya, dan tidaklah seorang wanita mendapatkan manisnya iman sehingga Ia menunaikan hak suaminya, walaupun suaminya memintanya, sedang Ia sedang berada di atas sekedupnya

قاَلَ اِبْنُ رَجَبْ فِي (فَتْحِ الْبَارِي: 1/27): فَإِذَا وَجَدَ اْلقَلْبُ حَلاَوَةَ اْلإِيْمَانِ أَحَسَّ بِمَرَارَةِ اْلكُفْرِ وَاْلفُسُوْقِ وَاْلعِصْيَانِ وَلِهَذَا قَالَ يُوْسُفُ عَلَيْهِ السَّلاَم ُ: {رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ} [يوسف33].

Ibnu Rajab berkata dalam kitab Fathul Bari 1/27 : “Maka apabila sebilah hati telah mendapatkan manisnya iman, maka ia akan sensitif merasakan pahitnya kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan, karena itulah Nabi Yusuf AS berkata : “Ya Rabb! Penjari lebih aku sukai daripada apa yang mereka serukan kepadaku” (QS. Yusuf : 33)

Hijrah Ke Madinah





I. TUJUAN UMUM MADAH
  1. Mengokohkan hubungan peserta dengan perjalanan hidup Rasulullah -Shallallahu 'alaihi wa sallam- menteladani secara baik beliau saw, serta mengambil berbagai pelajaran dan ibrah.
  2. Mengajak peserta untuk merenungi berbagai tata cara pengaturan dan manajemen yang ditetap Rasulullah -Shallallahu 'alaihi wa sallam- untuk menegakkan negara Islam di Madinah.

II.  TUJUAN KOGNITIF
1.      Mampu menafsirkan perintah Rasulullah -Shallallahu 'alaihi wa sallam- kepada para sahabatnya untuk berhijrah ke madinah.
2.      Menjelaskan berbagai cara untuk menteladani Rasulullah -Shallallahu 'alaihi wa sallam- dalam berdakwah.
3.   Menjelaskan strategi Rasulullah Saw untuk membangun masyarakat baru setelah hijrah diMadinah

 III.  TUJUAN AFEKTIF DAN PSIKOMOTORIK
1.      Termotivasi untuk berdakwah sebagi realisasi dari hikmah dibalik hjrah Rasulullah dan para sahabat ke Madinah
2.      Menghormati para sahabat yang telah membela Rasulullah -Shallallahu 'alaihi wa sallam.
3.      Merasa sesak (sempit) dada terhadap berbagai sikap yang berujung pada menyakiti Rasulullah -Shallallahu 'alaihi wa sallam.
4.      Merasa bahagia dan gembira saat membaca sirah Rasulullah -Shallallahu 'alaihi wa sallam- dan sirah para sahabatnya.
5.      Merasa bahagia saat membaca sikap-sikap yang menggambarkan kecintaan beliau saw dari sirah beliau saw.
6.      Merasa rindu untuk mendengarkan hadits Rasulullah -Shallallahu 'alaihi wa sallam.
7.      Menolak untuk menyakiti seseorang dengan sepatah kata, sebagaimana ia juga menolak untuk menghina saudaranya seiman.
8.      Berqudwah kepada Rasulullah -Shallallahu 'alaihi wa sallam- dalam kecintaan beliau kepada manusia, semangat beliau untuk memberikan yang terbaik kepada mereka (nasehat) serta mendakwahi mereka agar mendapatkan hidayah.
9.      Mengajak kawan-kawannya untuk menteladani Rasulullah -Shallallahu 'alaihi wa sallam.
10.  Menggabungkan diri kepada jamaah yang menyeru kepada Allah -Subhanahu wata'ala- dengan kebenaran dalam rangka menteladani Rasulullah -Shallallahu 'alaihi wa sallam.
11.  Memperkuat kecintaan kepada nabi , ahlul bait dan sahabat di hati para pelajar

IV. KEGIATAN PEMBELAJARAN
       Pilihan kegiatan yang bisa diselenggarakan  dalam halaqah adalah :
1.    Kegiatan Pembuka
Mengkomunikasikan tentang tujuan mengkaji siroh Dari hijrah ke Habsy hingga hijrah ke Madinah
2.  Kagiatan Inti:
a.       Kajian tentang Sejak Dari hijrah ke Habsy hingga hijrah ke Madinah
b.      Berdikusi dan tanya jawab tema kajian ( lihat tujuan  Kognitif, afektif dan psikomotor)
c.       Penekanan dari Murobbi  tentang nilai dan hikmah yang terkandung dalam materi Sejak hijrah ke Habsy hingga hijrah ke Madinah

3.    Kegiatan Penutup:
a.       Tugas mandiri (dalam pilihan kegiatan pendukung dan dzatiyah)
b.      Evaluasi

VI.  PILIHAN KEGIATAN PENDUKUNG
  1. Peta dan gambar tentang Makkah dan sekitarnya, dengan cara menentukan tempat-tempat yang memiliki hubungan dengan kehidupan Rasulullah -Shallallahu 'alaihi wa sallam.
  2. Membuat leaflet (kanvas) atau gambar yang menceritakan lingkungan tempat Rasulullah -Shallallahu 'alaihi wa sallam- mendapatkan pembinaan.
  3. Mempergunakan media massa Islam dan memberikan tekanan (focus) terhadap berbagai momentum yang berhubungan dengan tema yang sedang dibahas.
  4. Nasyid-nasyid yang dilantunkan oleh para siswa yang berisi ajakan untuk berqudwah kepada Rasulullah -Shallallahu 'alaihi wa sallam.
  5. Saat pergi umrah bersemangat untuk mengenal lingkungan (milieu) dan tempat-tempat yang berhubungan dengan kehidupan Rasulullah -Shallallahu 'alaihi wa sallam.
  6. Merekam dan memutar beberapa kisah yang mengisahkan sebagian dari kecintaan Rasulullah -Shallallahu 'alaihi wa sallam- perjuangan beliau yang habis-habisan untuk berdakwah.
  7. Mendayagunakan berbagai rekaman baik audio maupun visual dari radio atau televise yang berkaitan dengan tema.
  8. Memilih beberapa momentum dari kehidupan Rasulullah -Shallallahu 'alaihi wa sallam- dan menggubahnya menjadi pragmen atau drama singkat yang dimainkan oleh anak-anak muda.
  9. Film Arrisalah

V.  EVALUASI DAN MUTABAAH
Soal jawab seputar kehidupan Rasulullah -Shallallahu 'alaihi wa sallam- sebelum diangkat menjadi nabi dan rasul.

VI.  TUJUAN TARBIYAH DZATIYAH
1.      Memperkuat kecintaan kepada nabi , ahlul bait dan sahabat di hati para pelajar.
2.      Membekali pelajar dengan kajian tentang kebutuhan manusian terhadap risalah nabawiyah.
3.      Memahamkan pelajar atas hikmah dipilihnya Jazirah Arab sebagai tempat diutusnya nabi Muhammad saw
4.      Memperdalam pemahaman pelajar terhadap penomena pertolongan rabbani dalam memunculkan nabi Muhammad saw dan mempersiapkannya.
5.      Memberikan pengetahuan tentang tentang cobaan yang dihadapi nabisaw dan para sahabat pada fase da'wah sir dan jahr.
6.      Menyebutkan bentuk-bentuk olok-olok, penghinaan, keraguan kepada nabi saw  dan da'wahnya yang digaungkan oleh kuffar.
7.      Menyebutkan usaha-usaha kuffar untuk membunuh nabi saw dan sebab-sebab kegagalan mereka.
8.      Berorientasi kepada keteguhan dengan pijakan yang benar dan berbangga dengannya.
9.      Mengutamakan pengorbanan di jalan Allah di atas segala hal dan bersabar di jalan Nya.
10.  Mencintai nabi saw dan para sahabatnya dengan sebenar-benar cinta.
11.  Suka tolong menolong dalam kebajikan dan takwa seraya menteladani nabi saw dan para sahabatnya.

VII.   METODE PENGAJARAN SIROH NABAWIYAH
1.      Menjelaskan pentingnya mempelajari sirah nabawiyah dan tujuannya dan ihtimam salafussalih dengannya.
2.      Menjelaskan dan memaparkan kejadian yang berhubungan dengan tema pelajaran.
3.      Menyebutkan ayat yang berhubungan dengan sirah nabawiyah dan menjelaskannya.
4.      Menjelaskan tabiat fase yang yang dilalui saat kejadian peristiwa sejarah tersebut.
5.      Menjelaskan Aspek da'awi yang berhubungan dengan sirah.
6.      Menjelaskan pelajaran dan ibroh yang bisa di ambil dari peristiwa tersebut.
7.      Sikap-sikap tarbawi (menghubungkkan sekarang dengan dulu).
8.      Fiqih peristiwa.
9.      Memperkenalkan referensi yang membahas peristiwa tersebut baik kitab lama ataupun baru.
10.  Meminta untuk melakukan kegiatan pendukung.
11.  Mutaba'ah dan penilaian.

VIII.     REFERENSI
a.       As-Sirah An-Nabawiyah Durusun wa ‘Ibar, karya DR. Musthafa As-Siba’
b.      Sirah nabawiyah                                                       - Ibnu Hisyam
c.       Zaadul ma'ad                                                          - Ibnul Qayim
d.      Arrahiqul makhtum                                                  - Al Mubarak Furi
e.       Nurul Yaqin                                                             - Khudhari
f.       Assirah Annabawiyah                                              - Ibnu Katsir

IX. MUHTAWA


HIJRAH DAN MENETAP DI MADINAH


A.  BEBERAPA PERISTIWA PENTING

Pertama
Tersebarnya berita masuk Islamnya sekelompok penduduk Yatsrib (Madinah), membuat orang-orang kafir Quraisy semakin meningkatkan tekanan kepada orang-orang Mukmin di Makkah. Lalu Nabi Saw. memerintahkan mereka agar hijrah ke kota Madinah. Sahabat segera berangkat menuju Madinah secara diam-diam, agar tidak dihadang oleh musuh. Namun Umar bin Khattab justru mengumumkan terlebih dahulu rencananya untuk berangkat ke pengungsian kepada orang-orang kafir Makkah, dikatakannya:
“Siapa di antara kalian yang bersedia benpisah den gan ibunya, silahkan hadang aku besuk di lembah anu, besuk pagi saya akan hijrah.” Tidak seorang pun berani menghadang Uman.

Kedua
mengetahui, kaum Muslimin yang hijrah ke Madinah itu ternyata disambut baik dan mendapat penghormatan yang memuaskan dari penduduk, bermusyawarahlah kaum kafir Quraisy di Darun Nadwah untuk merumuskan cara-cara yang akan diambil untuk membunuh Rasululah Saw. yang diketahui belum berangkat bersama rombongan sahabat. Rapat memutuskan untuk mengumpulkan seorang algojo dan setiap kabilah guna membunuh Nabi Saw. bersama-sama. Pertimbangannya ialah, keluarga besar Nabi (Bani Manaf) tidak akan berani berperang melawan semua suku yang telah mengu­tus algojonya masing-masing. Satu-satunya pilihan yang mungkin mereka ambil ialah rela menerima diat (denda pembunuhan) manakala ternyata jiwa Nabi dapat mereka renggut nantinya. Keputusan bersama ini segera dilaksanakan dan para algojo tadi berkumpul di sekeliling rumah Nabi Saw. Mere­ka mendapat instruksi: “Keluarkan Muhammad dari rumahnya dan langsung penggal tengkuknya dengan pedangmu.”

Ketiga
Pada malam pengepungan itu Nabi Saw. tidak tidur. Kapada keponakannya, Ali Ra. beliau meme­rintahkan agar tidur (berbaring) ditempat tidur Nabi dan menyerahkan kembali semua harta titipan penduduk Makkah yang ada di tangan Rasulullah Saw. kepada masing-masing pemiliknya.
Nabi keluar dan rumahnya tanpa diketahui oleh seorang pun di antara mereka, yang sejak senja sudah bersiap-siap untuk membunuhnya. Beliau pergi menuju rumah Abu Bakar yang sudah menyiapkan dua tunggangan (kendaraan) lalu segera berangkat Abu Bakar mencarter Abdullah bin Uraiqith Ad-Daily untuk menunjukkan jalan pintas menuju Madinah.

Keempat
Rasulullah dan Abu Bakar berangkat pada hari kamis tangal 1 Rabi’ul Awwal tahun kelima puluh tiga dan kelahiran Nabi Saw Hanya Ali dan keluarga Abu Bakar saja yang tahu keberangkatan beliau berdua malam itu. Sebelumnya Aisyah dan Asma binti Abu Bakar telah menyiapkan bekal secukupnya. Kemudian beliau berdua berangkat, bersama penunjuk jalan, menelusuri jalan Madinah - Yaman, hingga sampai di Gua Tsur. Nabi dan Abu Bakar berhenti di situ dan penunjuk jalan disuruh kembali secepatniya guna menyampaikan pesan rahasia Abu Bakar kepada Putranya, Abdullah.
Tiga malam lamanya Nabi dan Abu Bakar bersembunyi di gua itu, tetapi setiap malam mereka ditemani oleh Abdullah bin Abu Bakar yang ber­tindak sebagai pengamat situasi dan pembeni informasi.

Kelima
Lolosnya Nabi dan kepungan yang ketat itu membuat kalangan Quraisy hiruk pikuk mencarinya. Jalan Makkah - Madinah sudah dilacak, tetapi gagal menemukannya. Kemudian ditelusurmnya jalan
Yaman - Madinah, dengan dugaan Nabi pasti bersembunyi di Gua Tsur. Setibanya tiem pelacak itu di sana, alangkah bingungnya mereka ketika meithat mulut gua itu tertutup jaring laba-laba dan sanang bunung, hal mana menunjukkan tidak ada onang yang masuk ke dalam gua itu. Mereka tidak dapat melihat apa yang ada dalam gua itu, tetapi orang yang di dalamnya dapat melihat jelas rom­bongan yang berada di luar. Waktu itulah Abu Bakar merasa sangat khawatir akan keselamatan mereka bendua, tetapi Rasulullah mengatakan kepadanya:
 “Hai Abu Bakar, kita ini bendua dan Allah-lah yangketiganya.”

Keenam
Kalangan kafir Quraisy mengumumkan kepada seluruh kabilah : “Siapa saja yang dapat menyerah­kant Muhammad dan kawannya (Abu Bakar) kepada kami hidup atau mati, maka kepadanya akan diberikan hadiah yang bernilai jutaan.” Bangkitlah Suraqah bin Ja’syam mencari dan mengejar Nabi, dengan harapan akan menjadi hartawan dalam waktu singkat.
Sungguhpun jarak antara Gua Tsur dengan rombongan Nabi sudah begitu jauh, namun Suraqah ternyata dapat menyusulnya. Tatkala sudah begitu dekat, tiba-tiba tersungkurlah kuda yang ditungga­nginya, sementara pedang yang telah diayunkannya ke arah Nabi tetap terhunus di tanganunya. Tiga kali ia melibaskan pedangnya ke arah tubuh Nabi, tetapi pada detik-detik itu pula kudanya tiga kali tensung­kur sehingga tak terlaksanalah maksud jahatnya. Kemudian ia menyarungkan pedangnya dalam keadaan diliputi perasaan kagum dan yakin, dia benar-benar berhadapan dengan seorang Nabi yang menjadi Rasul Allah. Ia mohon kepada Nabi agar berkenan menolongnya yakni mengangkat kudanya yang tak dapat bangun karena kakinya terperosok ke dalam pasir. Setelah ditolong oleh Nabi, ia memin­ta agar Nabi berjanji akan membeninya hadiah berupa gelang kebesaran raja-raja. Nabi menjawab:
“Baiklah.”
Kemudian kembalilah ia ke Makkah dengan berpura-pura tak menemukan seseorang dan tak pernah mengalami kejadian apa pun.

Ketujuh
Rasulullah dan Abu Bakar tiba di Madinah pada tanggal 12 Rabi’ul awal. Kedatangan beliau telah dinanti-nantikan masyarakat Madinah. Pagi hari me­reka berkerumun di jalanan, setelah tengah hari barulah mereka bubar. Begitulah penantian mereka beherapa han sebelum kedatangan Nabi. Pada han kedatangan Nabi dan Abu Bakar, masyarakat Madi­nah sudah menunggu berjubel di jalan raya yang akan dilalui Nabi lengkap dengan regu genderang (drum bend). Mereka mengelu-elukan Nabi dan genderang pun gemuruh diselingi nyanyian yang Sengaja di gubah untuk keperluan penyambutan itu.

Bulan purnama telah muncul di ten gah-tengah kita, dan celah-celah bebukitan. Wajiblah kita bensyukun, atas ajakannya kepada Allah. Wahai onang yang dibangkitkan untuk kami, kau datang membawa sesuatu yang ditaati.”

Kedelapan
Di tengah perjalanan menuju Madinah, Rasu­hillah singgah di Quba’, sebuah desa yang terletak dua mil di selatan Madmnah. Dibangunnyalah sebuah Masjid, dan merupakan Masjid pertama dalam scjarah Islam. Beliau singgah di sana selama empat han untuk selanjutnya meneruskan perjalanan ke Madinah. Pada Jum’at pagi beliau berangkat dari Quba’ dan tiba di perkampungan Bani Salim bin Auf, persis pada waktu shalat Jum’at, lalu shalatlah beliau di sana. Inilah Jum’at pertama dalam Islam, dan karena itu khutbahnya pun merupakan khutbah yang pertama.
Kemudian Nabi berangkat meninggalkan Bani Salim. Program pertamanya sesampainya di Madi­nah ialah menentukan tempat, dimana akan dibangun Masjid. Tempat itu ialah tempat di mana ontanya berhenti setibanya di Madinah. Ternyata tanah dimaksud milik dua orang anak yatim. Untuk itu Nabi minta supaya keduanya sudi menjual tanah miliknya, namun mereka lebih suka menghadiah­kannya. Tetapi beliau tetap ingin membayar tanah di maksud seharga sepuluh dinar. Dengan senang hati Abu Bakar menyerahkan uang kepada mereka berdua.
Pembangunan Masjid segera dimulai dan seluruh kaum Muslimin ikut ambil bagman, sehingga berdiri sebuah Masjid berdinding bata, berkayu batang korma dan beratap daun korma.

Kesembilan
Kernudian Nabi mempersaudarakan antara orang-orang Muhajirin dengan Anshar. Setiap orang Anshar mengakui orang Muhajirin sebagai saudara­nya sendiri, mempersilahkannya tinggal di rumah­nya dan memanfaatkan segala fasilitasnya yang ada di rumah bersangkutan.

Kesepuluh
            Selanjutnya Nabi Saw. merumuskan piagam yang berlaku bagi seluruh kaum Muslirnin dan orang-orang Yahudi. Piagam inilah yang oleh Ibnu Hisyam disebut sebagai undang-undang dasar negara dan pemerintahan Islam yang pertama. Isinya mencakup tentang prikemanusiaan, keadilan sosial, toleransi beragama, masyarakat dan lain-lain. Saripatinya adalah sebagai
berikut:

1.      Kesatuan umat Islam, tanpa mengenal perbe­daan.
2.      Persamaan hak dan kewajiban
3.      Gotong royong dalam segala hal yang tidak ten­masuk kezaliman, dosa dan permusuhan.
4.      Kompak dalam menentukan hubungan dengan orang-orang yang memusuhi umat.
5.    Membangun suatu masyarakat dalam suatu sis­tem yang sebaik-baiknya, seluruhnya dan seko­koh-kokohnya.
6.    Melawan orang-orang yang memusuhi negara dan membangkang, tanpa boleh memberikan bantuan kepada mereka.
7.    Melindungi setiap orang yang ingin hidup ber­dampingan dengan kaum Muslimin dan tidak boleh berbuat zalim atau aniaya terhadapnya.
8.    Umat yang di luar Islam bebas melaksanakan agamanya. Mereka tidak boleh dipaksa masuk Islam dan tidak boleh diganggu harta bendanya.
9.    Umat yang di luar Islam harus ambil bagian dalam membiayai negara, sebagaimana umat Islam sendiri.
10.  Umat non Muslim harus membantu dan ikut memikul biaya negara dalam keadaan terancam.
11.  Umat yang di luar Islam, harus saling membantu dengan umat Islam dalam melindungi negara dan ancaman musuh.
12.  Negara melindungi semua warga negara, baik yang Muslim maupun bukan Muslim.
13.  Umat Islam dan bukan Islam tidak boleh melin­dungi musuh negara dan orang-orang yang membantu rnusuh negara itu.
14.  Apabila suatu perdamaian akan membawa keba­ikan bagi masyarakat, maka semua warga negara baik Muslim maupun bukan Muslim, harus rela menenima perdamaian.
15.  Seorang warga negara tidak dapat dihukum karena kesalahan orang lain. Hukuman yang mengenai seseorang yang dimaksud, hanya boleh dikenakan kepada din pelaku sendiri dan keluarganya.
16.  Warga negara bebas keluar masuk wilayah ne­gara sejauh tidak merugikan negara.
17.  Setiap warga negara tidak boleh melmndungi orang yang berbuat salah atau berbuat zalim.
18.  Ikatan sesama anggota masyarakat didasarkan atas prinsip tolong-menolong untuk kebaikan dan ketaqwaan tidak atas dosa dan permusuhan.
19.  Dasar-dasar tersebut ditunjang oleh dua kekuat­an. Kekuatan spiritual yang meliputi keimanan seluruh anggota masyarakat kepada Allah, kei­manan akan pengawasan dan penlindungan-Nya bagi onang yang baik dan konsekwen. Kekuatan material, yaitu kepemimpinan negara yang ter­cerminkan oleh Nabi Muhammad Saw.
20.  gotong royong untuk kebaikan

B.   BEBERAPA PELAJARAN

Pertama
Seorang yang Mukmin yang percaya akan kemampuannya tentu tidak akan sembunyi-sem­bunyi beramal. Sebaliknya ia berterus terang tanpa gentar sedikitpun terhadap musuh, sebagaimana yang dilakukan Umar bin Khattab sewaktu dia akan hijrah. Dalam kasus ini ada pelajaran, keberanian bisa membuat musuh merasa ngeri dan gentar. Seandainya orang-orang kafir Quraisy sepakat untuk membunuh Umar, tentulah mereka mampu melaku­kan itu. Akan tetapi sikap Umar yang berarui itulah yang membuat gentarnya kafir Quraisy, dan memang onang-orang jahat selalu merasa takut kehi­langan hidup (nyawa).

Kedua
Ketika ajakan ke arah kebenaran dan perbaikan sudah dapat dibendung, apa lagi pendukung-pendu­kungnya sudah dapat menyelamatkan din, tentulah orang-orang jahat berpikir untuk membunuh pemim­pin da’wah itu. Mereka memperkirakan dengan terbunuhnya sang pemimpin, tamatlah riwayat da’wah yang dilakukannya. Pemikiran semacam ini selalu ada dalam benak orang-orang yang memusuhi kebaikan, dan zaman dulu sampai sekarang.

Ketiga
Prajunit yang sungguh-sungguh ikhlas untuk menyerukan kebaikan tentulah bersedia menyela­matkaku pemimpinnya sekalipun dengan mengor­bankan jiwanya sendiri. Sebab selamatnya pemimpin berarti selamatnya da’wah. Apa yang telah dilakukar. oleh Au yang tidur di tempat Nabi merupakan pe­ngorbanan jiwa raga guna menyelamatkan din Rasulullah.
‘Pada malam itu sangat besar kemungkiflan terbunuhnya Au, karena algojo-algojo yang melaku­kan pengepungan itu tentu akan menduga, Mi itulah Nabi. Akan tetapi hal itu tidak merisaukannya sama sekali, karena yang lebih dipentingkaflflYa ialah keselamatafl Nabi Muhammad Saw.

Keempat
DititipkaflflYa harta benda milik orang-oraflg Musynik kepada Nabi Saw. sementara golongan mereka sendiri memusuhi dan berambisi untuk membunuh Nabi, adalah menunjukkan kepercayaafl mereka akan kelurusan dan Icesucian pribadi Nabi. Mereka juga mengerti benar, Nabi jauh lebih hebat dan lebih bersih hatinya dan pada mereka sendiri. Hanya kebodohan, ketidaktahUafl dan keterikatan mereka kepada tradisi-tradiSi dan kepercayaan kepercayaafl yang salah sajalah yang membuat mereka memusuhi, menghalangi dan mengusahakan membunuh Nabi.

Kelima
Berpikirnya seorang pemimpin da’wah atau kepala negara atau pemimpin suatu pergerakan untuk menyelamatkan din dan ancaman musuh, sehingga ia mengambil jalan lain, tidaklah dapat dianggap sebagai penakut atau tidak benkonban jiwa.

Keenam
Adanya partisipasi Abdullah bin Abu Bakar, dalam penencanaan dan pelaksanaan hijrah Nabi, menunjukkan adanya peranan genenasi muda dalam mensukseskan da’wah. Mereka merupakan penun­jang yang dapat diandalkan bagi mempercepat proses kesuksesan.
Pejuang-pejuang Islam yang pertama dahulu, seluruhnya tendiri dan pemuda. Rasulullah berumur empat puluh tahun, ketika dibangkitkan menjadi Nabi. Abu Bakar berumur tiga puluh tahun, semen­tara Ali paling muda di antara mereka. Demikian pula Usman, Abdullah bin Mas’ud, Abdurrahman bin Auf, Arqam bin Abu Arqam, Sa’id bin Zaid, Bilal bin Rabah, Amman bin Yasir dan lain-lain, seluruhnya adalah pemuda-pemuda. Mereka sanggup memikul tanggung jawab da’wah dengan segala pengorbanan dan berbagai macam denita, dan ternyata mereka mampu memenangkan Islam. Dengan kesungguhan­nya beserta kaum Muslimin lainnya berdirilah negara Islam, ditundukkanlah berbagai negeri, dan sampailah Islam ke tangan generasi benikutnya, hingga kini.

Ketujuh
Partisipasi Aisyah dan Asma binti Abu Bakar dalam pelaksanaan hijrah Nabi Saw. mengisyaratkan, kaum wanita bukannya tidak diperlukan dalam suatu perjuangan. Kaum hawa yang berperasaan halus itu mudah diberi kepercayaan. Mereka banyak sekali membantu sang suami mengurusi anak-anak dan keluarga.
Dalam pada itu perjuangan kaum wanita di zaman Rasulullah dahulu mengesankan kita sekarang, suatu gerakan Islamiyah akan berjalan seret dan kurang membekas di kalangan masyarakat, manakala di dalamnya kaum wanita belum ikut ambil peranan. Bila sudah, maka itu berarti terben­tuknya suatu genenasi wanita atas dasar keimanan, akhlak mulia, kesabaran dan kesucian. Mereka akan lebih mudah menyebarkan nilai-nilai luhur yang dibutuhkan oleh dunia dewasa ini ke dalam masya­nakatnya sesama kaum wanita, ketiinbang kaum pnia. Tetapi hal ini tidak berarti mereka boleh untuk tidak menjadi isteni dan ibu rumah tangga yang baik.
Dalam rangka mendidik generasi muda, pada zaman Nabi, kaum wanita ini telah memberikan sumbangafl yang tinggi nilainya. Merekalah yang banyak berbuat untuk menumbuhkan suatu generasi penerus yang berakhlak Islam, mencintal Islam dan Rasulnya serta berjuang untuk Islam. Untuk ini dapatlah dikatakan, kaum wanita itu lebih berhasil membentuk sebaik-baik generasi penerus perjuangan Islam. Kini kita harus belajar dan sejarah di atas, harus benusaha membawa kaum waiuta dan ibu-ibu, gunamencetak mereka menjadi perancang panji-panji Is­lam di tengah-tengah masyarakat, mengingat kuan­titasnya melebihi separoh penduduk dunia. Hal itu menuntut kita untuk mendidik putni-putni dan sau­dari-saudanj, lembaga-lembaga pendidikan Islam, guna mempelajani berbagai ajanannya. Banyaknya jumlah mereka yang paham akan agama Islam, hukum, sejarah dan lain-lain ilmu, dan banyak mere­ka yang berakhlak seperti akhlak Nabi Saw. dan isteni-istenmnya, tentulah kita akan dapat lebih cepat lagi memacu perbaikan yang berdasarkan ajanan Islam dan menciptakan masyarakat yang mentaati selunuh ketentuannya.

Kedelapan
Tidak terlihatnya Nabi Saw. oleh mata orang­orang yang mengejarnya di Gua Tsur, dan adanya sarang laba-laba serta sarang-sarang burung yang sedang bertelur seperti dalam cenita, kedua-duanya merupakan contoh adanya pentolongan Ilahi kepada Rasul-Nya dan bagi pembela-pembela agama-Nya. Allah Swt. tidak membiarkan cita-cita itu gagal di tangan onang-onang Musyrik. Ia selalu akan membeni jalan bagi hamba-hamba-Nya yang ikhlas karenanya.
Allah Swt. berfirman:
            
“Sesungguhnya Kami pasti menolong Rasul-nasul Kami dan onang-onang yang beniman, di dunia mi dan di akhinat nanti.” (Gha fir: 51).

Kesembilan
Kekhawatiran Abu Bakar Ra. kalau musuh meli­hat mereka yang bersembunyi di dalam gua adalah menunjukkan betapa sayangnya sang pengawal kepada pimpinannya yang sedang terancam bahaya, melebihi sayangnya terhadap dirinya sendiri. Sean­daiٌya ia mementingkan din sendini, tentulah dia tidak bersedia menemani Rasulullah dalam suatu perjalanan yang penuh bahaya itu. Ia bukannya tidak tahu, manakala Nabi Saw. tertangkap dan dibunuh, maka dia pun akan dibunuh.

Kesepuluh
Jawaban Rasulullah yang bermaksud menenang­kan Abu Bakan pada saat itu merupakan kata-kata yang menunjukan betapa yakin-Nya Nabi Kepada Allah yang pasti menolong hamba-Nya dan betapa tulusnya beliau bertawakkal kepada-Nya. Dan menu­pakan bukti nyata kebenaran da’wah kenabiannya. Betapapun beliau dalam keadaan sangat sulit dan terjepit, namun dia yakin, Allah Swt. tidak pernah melepaskannya sesaat pun, karena dirinya itu diutus­Nya untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.
Di sinilah beda Nabi dengan orang yang se­tengah-setengah dalam menyenu mلnusia ke jalan Allah dan juga dengan orang yang benpura-pura.
Kesebelas
Apa yang telah terjadi atas din Suraqah yang gagal total membunuh Nabi Saw. juga merupakan bukti kenabian Nabi Saw. Setiap kali ia mengarahkan kudanya ke arah tubuh Nabi, terjerembablah kuda itu dan kakinya tenggelam ditelan pasin. Tapi jika diputar haluan, kembalilah kuda itu bangun dan berjalan seperti biasa. Bukankah ini pentolongan Allah Swt. kepada Rasul-Nya? Ambisi Suraqah untuk memperoleh hadiah yang melimpah sebagaimana yang dijanjikan pemimpin-pemimpin kafir Qunaisy, temyata tidak dapat mengalahkan kekuasaan Allah yang menghendaki keselamatan Rasul-Nya. Oleh karena usahanya mengejar Nabi itu demi harta benda, maka ia pun merasa puas dengan janji Nabi untuk menghadiahkan sesuatu kepadanya.

Keduabelas
Janji Rasulullah akan menghadiahkan kepadanya pakaian kebesaran kaisar, setelah kegagalan Suraqah itu adalah juga suatu mu’jizat yang dimiliki Nabi. Seonang manusia biasa yang sedang lan dan kepungan musuhnya tentulah tidak lagi sempat membayangkan, dia akan mampu menaklukkan dan menampas mahkota raja. Tetapi kanena beliau memang benar-benar seorang Nabi, masth segarlah dalam benaknya, pada akhinnya beliau akan dapat menaih mahkota naja-raja, dan apa yang dijanjikannya kepada Suraqah niscaya akan benan­benar tenlaksana.
Dalam suatu peperarigan yang dimenangkan oleh umat Islam benikut harta nampasan yang tertimbun, terlihatlah oleh Suraqah sepasang gelang raja. Lalu ia minta kepada Umar bin Khattab agar gelang itu diberikan kepadanya, sebagai realisasi janji Rasulullah kepadanya dulu. Umar pun meme­nuhi permintaan itu dengan disaksikan oleh sahabat­sahabat Nabi lainnya.

Ketigabelas
Kegembinaan peduduk Madinah dengan keda­tangan Rasulullah Saw. menupakan kegembinaan yang sesungguhnya bagi kaum Muhajinin dan Anshar, tetapi semu bagi kaum Yahudi. ‘Mereka turut bergembira di lahinnya, tapm dengki di dalam batin­nya, karena orang yang mereka sambut itulah yang akan mengambil alih kepemimpinan dan kewibawa­an yang selama irü ada di tangan mereka. Bagi orang­orang Yahudi Madinah, kedatangan Rasulullah itu akan membuat meneka tidak lagi bisa berbuat seenaknya terhadap jiwa dan hanta benda nakyat.
Sungguh pun kedengkian dan keengganan tunduk kepada hukum pada mulanya berhasil mere­ka tutup-tutupi, namun akhinnya terbuka juga. Isi piagam pensaudaraan yang telah mereka sepakati di hadapan Nabi dan kaum Muslimin dulu mulai diingkarmnya satu persatu. Ini berarti, mereka tidak rela dan tidak suka hidup damai. Memang meneka rupanya sejak dulu selalu ingin mengobarkan api peperangan. Akan tetapi api yang dikobarkannya itu akan selalu dapat dipadamkan, sebagaimana dijanjikan Allah Swt. dalam firman-Nya:
                             

“Setiap kali meneka mengobankan api pepenangan, maka setiap kali itu pula Allah memadamkannya.” (Al­Maidah: 64)

Keempatbelas
Dan penistiwa hijnah ke Madinah nyatalah yang pentama kali dilakukan oleh Rasulullah ialah mem­bangun Masjid. Selama empat han benmalam di Quba’, dibangunnya Masjid Quba’. Selanjutnya beliau membangun sebuah Masjid di perkampungan Barn Salim, yang terletak antana Quba, dan Madinah. Begitu pula di Madinah sendiri. Yang pertama kali dilakukannya ialah membangun Masjid Madinah. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya Masjid dalam Islam.
Semua ibadat yang terdapat dalam Islam bertujuan untuk mensucikan jiwa, meningkatkan akhlak, mempenkuat pensaudaraan dan kegotong­royongan antara sesama Muslim. Shalat berjamaah, shalat Jum’at dan shalat dua han raya adalah cen­minan persaudaraan sosial, persatuan kata dan tuju­an dengan demikian tidaklah teningkari lagi Masjid itu membawa misi sosial kemasyanakatan dan kerohaniaan yang sangat besan maknanya bagi masyarakat Islam.
sejarah menyatakan dan Masjidlah tentara Islam berangkat untuk menyebanluaskan hidayah Allah (agama Islam) ke seluruh penjuru dunia. Dan Masjidlah diolah dan dikembangkan kebudayaan Islam. Abu Bakar, Umar, Ali, Khalid, Said, Abu Ubadah dan lain-lain pembesar dalam sejarah Islam adalah tamatan madrasah Islamiyah yang berpusat di Masjid.
Hal lain yang perlu dicatat ialah Masjid menu­pakan sarana pendidikan Islam yang bensifat masal dan mingguan. Setiap minggu (yaitu pada han Jum’at) dicanangkan seruan untuk mengikis habis kemurtgkaran di samping perintah untuk menegak­kankebenaran dan keadilan. Dan dalam Masjid itu diberikan pula peningatart bagi orang yang lupa pada Islam, diserukan persatuan umat, diprotes segala bentuk kezaliman berikut pelaku-pelakunya. Bukan­kah dulu dan Masjidlah digalang persatuan dan semangat juang umat Islam untuk mengenyahkan penjajah, baik yang bernama impenialisme Perancis, Inggris, belanda dan konco-konconya, maupun yang bennama Zeonisme Yahudi? Jika dewasa ini Masjid tidak difungsikan sebagaimana mestinya lagi, maka itulah kesalahan khatib-khatib yang rela membelok­kan ajaran agama, hanya karena keselamatan pribadi dan kepentingan perut dan kedudukannya.
Sangat beruntung jika dalam keadaan tidak berfungsinya Masjid-masjid dewasa ini bangkit ulama, yang ikhlas demi Allah, menyerukan agar kembali menjadikan Masjid sebagai sentral da’wah Islamiyah. Dan sanalah kita bina masyarakat Islam, kita bina dan cetak kader-kaden, dan kita siapkan pahlawan-pahlawan agama. Dan sanalah kita pe­nangi kejahatan dan kemungkaran, guna memudah­kan terbentuknya masyarakat Islam yang diidam­idamkan. Kemudian pendinian seperti ini disadari dan dilanjutkan oleh generasi muda Islam yang su­dah benilmu dan berakhlak bagaikan akhlaknya Rasulullah Saw.

Kelimabelas
Pensaudaraan yang dibina Rasulullah antana kaum Muhajirin dan Anshar adalah juga merupakan kenyataan dan keadilan Islam yang berpnikemanu­siaan bermoral dan konstruktif. Kaum Muhajinin telah meninggalkan negeni kelahirannya dengan tidak membawa hanta benda, sedangkan kaum Anshan nata-rata merupakan orang-orang kaya dengan hasil pertanian dan industri.
Oleh karena itu pantaslah jika mereka turun tangan mengatasi kesulitan-kesulitan yang didenita oleh saudara-saudaranya yang Muhajinin, baik perbuatan yang berkeadilan sosial, yang melebihi keadilan sosial yang diajankan oleh Islam dan dipraktekkan oleh Nabi Saw ini?
Atas dasar di atas dapatlah dikatakan, onang­orang yang mengingkari adanya keadilan sosial dalam Islam, adalah onang yang memutarbalikkan fakta setidak-tidaknya, benmaksud agar ajaran ini ditinggalkan sedikit demi sedikit, atau agar orang
yang belum memeluknya sama sekali menjadi tidak senang kepadanya. Kalau orang yang mengingkan­nya itu adalah onang Islam sendini, maka pastilah mereka itu onang yang jumud (tidak mengerti) yang tidak suka akan kata “keadilan sosial” itu saja. Sejarah telah membuktikan hal ini, Nabi Saw. sendiri telah menegakkannya dan sekaligus menjadikannya landasan bagi berdininya masyarakat dan negara Islam yang dipimpinnya sendini.
Keenambelas
Dalam piagam persaudaraan antara kaum Muhajinin dan kaum Anshar, di satu pihak, dan piagam kenjasama antara kaum Muslimin dengan non Muslim di lain pihak, terdapat sejumlah bukti yang menunjukkan Daulah Islamiyah itu ditegakkan di atas pninsip keadilan, asas hubungan antara Muslimin dan non Muslimin adalah perdamaian. Dalam piagam tersebut ditegaskan pula kebenanan, keadilan, gotong royong dalam kebaikan dan dalam mengikis segala akibat yang ditimbulkan oleh ke­mungkaran, yang telah melanda masyanakat menu­pakan thema-thema yang selalu dibawa oleh agama Islam. Daulah Islamiyah itu, dimana dan kapan pun adanya, haruslah ditegakkan di atas pninsip-prinsip yang sebenar-benarnya dan seadil-adilnya. Pninsip­pninsip dimaksud tentulah yang terbaik di antana prinsip-pninsip kenegaraan yang ada dan dipnaktek­kan dewasa ini.  Usaha-usaha masyarakat Islam ada­lah sangat relevan dengan penkembangan pemikiran
manusia tentang kenegaraan, hal mana masyarakat Islam sendiri harus mencontoh ajaran Islam sendini.
Di negeri Islam, kaum Muslimin tetap dilarang mengganggu kawan-kawannya yang non Muslim, dilarang menganggu gugat keyakinan lain itu dan dilarang memperkosa hak-hak mereka. Mengapa orang-orang masih tidak setuju memberlakukan hukum Islam di negerinya masing-masing, padahal hukum Islam ii cukup adil, benar, kokoh, memen­tingkan keadilan sosial yang berasaskan persau­daraan, cinta mencintai dan tolong menolong?
Kepada selunuh umat Muslimin patutlah dipe­ningatkan, penjajahan, dalam segala bentuk dan manifestasinya, tidaklah akan terkikis habis, melain­kan dengan cara menerapkan Islam. Inilah inti perjuangan kita semua dewasa ini.
Perhatikan firman Allah berikut ini:
                                 

“Sekinanya penduduk negeri sudah beniman dan bentaqwa, pastilah akan Kami limpahkan kepadanya kebenka tan dan langit dan bumi.” (Al-A’raf: 96)
                         ~                                                    .
“Dan yang Kami penintahkan ini adalah jalan yang lurus, maka tunutilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, kanena jalan-jalan yang lain itu mencerai-benaikan kamu dan membelokkan dan jalan­Nya.” (Al-An’am: 153)
     



“Dan siapa saja yang bentakwa kepada Allah, niscaya Dia dican membenikan jalan keluan. Dan membeninya rezki dan jalan yang tiada disangka-sangka, dan siapa saja yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Ia akan mencukupkan kepenluan nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan u rusa n yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah telah men gadakan ketentuan bagi segala sesuatu.” (At-Thalaq: 2-3)
                             4’                                              ~                    4-•.~ ~                          

“Dan siapa saja yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia, menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (At-Thalaq: 4)